Adakah yang lebih beruntung dariku?

inyong Karo Mboke
Adakah yang lebih beruntung dariku? - tulisan kali ini lebih tepatnya bisa dikatakan EDISI CURHAT. curhat yang bukan sembarang curhat. anda bisa membandingkan, bisa mengambil hikmah, bisa belajar pengalaman dari orang lain yaitu pengalaman saya sendiri dan keluarga saya, dan juga bisa untuk instrospeksi diri serta kemanfaatan lain luar biasa dan Insya Allah dapat anda petik dari apa yang saya tulis.

Di Tinggal Orang Tua Sejak BALITA
cerita curhat saya awali dengan kehidupan saya saat kecil. entah sejak umur berapa saya sudah ditinggal kedua orang tua merantau di jakarta, persisnya saya tidak tahu. yang jelas, saya ingat betul saat daftar sekolah di SD Kalipucang yang tinggal di rumah hanya kakek dan nenek saja, jadi sudah jelas bahwa semenjak balita saya sudah tidak bersama orang tua saya. saya biasa memanggil kakek dan nenek dengan sebutan MBOKE untuk nenek, dan BAPA GEDE untuk kakek. orang tua saya merantau di jakarta berjualan ketoprak demi keluarga yang ada di rumah (kampung).

Dijuluki Profesor
saya masuk sekolah dasar tahun 1994 di SDN Kalipucang, saat kelas 1 sampai kelas 3 tidak ada hal menonjol pada diri saya. lalu, setelah kelas 4 saya mulai menunjukkan prestasi saya dengan selalu menggondol peringkat 3 besar. di kelas 4 juga saya melakukan banyak inovasi-inovasi di bidang permainan tradisional (membuat kerajinan yang anak seusia saya belum mampu bahkan orang dewasapun belum tentu bisa, misal: patung keramik, sepeda bambu yang memang bisa dikayuh & jalan, pot keramik, suka mencangkok, stek, gangsing dengan model unik, mainan mobil-mobilan seperti buldoser, mobil jip, truk, sedan dari bambu, dsb.) sehingga saya dijuluki dan dipanggil dengan sebutan Profesor oleh teman-teman saya (prof prof gitu, padahal sih aslinya saya malu!).

Pandai Menggambar & Pembuat Buku Komik
sejak kecil, sebenarnya saya sangat gemar menggambar dan membuat cerita komik. gambar-gambar yang saya hasilkan bahkan sampai 3 buka full colour, contohnya: gambar dragon ball dengan berbagai karakter yang berbeda secara komplit. untuk buku-buku komik yang saya tulis juga banyak, seperti gareng petruk, oncom, hasil saduran dari komik-komik koran terbitan jakarta (soalnya kalo orang tua pulang pasti bawa koran bekas). saya juga pernah membuat buku tentang kerajinan tangan karya asli anak kelas 4 yang secara umur baru 9 tahun. cuma sayang bakat kecil saya itu seiring dengan jaman semakin hilang mungkin karena tidak diasah.

Jualan Es Lilin Milik Tetangga
ya, sejak saya kelas 5 SD saya sudah berjualan es lilin keliling desa menawarkan dari rumah ke rumah tetangga bahkan antar desa. es lilin saya ambil dari tetangga saya yang kebetulan pada saat itu punya kulkas. harga es lilis sendiri tidak begitu mahal, cuma 25 rupiah (25 perak jare wong tua). nah, dari penjualan nanti saya dikasih persenan untung dari tetangga saya itu. sambil bawa termos, berjalan puluhan kilometer, teriak teriak, ES! ES! ES! ES!
Dorong Gerobak Pasir & Bubuk Demi 3 Ribu Rupiah
Karena keadaan ekonomi yang kurang menguntungkan, saya selalu putar otak supaya saya bisa pegang uang sendiri. selain untuk keperluan uang saku dan jajan di sekolah juga, uang tersebut saya sisihkan dalam bentuk tabungan di kaleng bekas susu yang saya lubangi. lalu, darimana uang itu?? uang itu adalah hasil jerih payah saya ndorong gerobak pasir ataupun bubuk putih dari pengusaha pengecer pasir yang jika ada pesanan nanti dia akan cari orang yang bertugas untuk mengantarkan pasir tersebut sesuai tujuan pemesan. dari hasil ndorong gerobak itulah, sekali jalan saya dikasih upah 3ribu sampai 6ribu oleh pak warjo.

Tidak Kepikiran Lanjut SMP
saat saya kelas 6 dan akan lulus dari sekolah dasar, di dalam benak saya tidak ada pikiran untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. selain karena faktor ekonomi, yang dimana untuk makan saja susah. setiap hari harus beli loyang (nasi basi yang sudah dijemur), terus loyang tersebut diliwet kembali jadi nasi. lauknya apa? lauknya cuma garam.

Cari IKAN & UDANG di Sungai untuk LAUK Sehari-hari
inilah lauk terenak dan terlezat yang saya rasakan selama kurun waktu antara SD sampai SMA kelas 1. biasanya kegiatan cari ikan & udang di kali ini setiap habis dari sawah dalam rangka mencari sesuap nasi juga, yaitu gampung. gampung itu istilah mencari sisa-sisa hasil panenan petani yang mungkin masih ada. sambil berpanas-panasan, setiap ada sawah yang sedang panen (entah bawang, kedelai, cabai, apapun yang bisa dijadikan untuk bertahan hidup) maka dengan semangat saya dan para gampungers lainnya menyerbu sawah itu. kadang juga kalo pemilik sawahnya tidak terima ya, saya diusir, dicaci maki, dilemmpar tanah ataupun lumpur. HUSH! HUSH! AJA MENE-MENE!".

Jadi Ahli Biologi & Matematika Saat SMP
inilah hal yang menjadi kebanggaan dan kesayangan guru biologi dan matematika saya. bahkan di kelas 3, saya mendapat predikat terbaik, tapi sayangnya saat ujian nasional nilai matematika saya cuma dalam kategori cukup. lah kok bisa? karena pada saat saya ujian nasional mapel matematika, saya dilanca FLU BERAT (umbele molor sampai dawa nemen). saking parahnya flu yang saya derita, meja tempat ujian basah untuk lap lepetan-lepetan ingus utawi umbel. (mungkin ini terkesan lucu, tapi coba anda bayangkan bagaimana tersiksanya saya pada saat ujian nasional matematika saat itu yang mengakibatkan nilai saya cuma pas-pasan).

dan inilah point-point sejarah yang akan saya share kepada anda tentang saya dan keluarga saya. saya tidak ingin dengan pengalaman saya ini, anda berfikir bahwa, "sengsara kok bangga.." atau "kesengsaraan kok dipamerin". JANGAN!! jangan beranggapan negatif tentang apa yang saya tulis di postingan ini karena itu bukan tujuan saya. tujuan saya adalah, kembali pada mukadimah diawal postingan bahwa point pengalaman-pengalaman yang saya ceritakan dimaksudkan agar anda bisa mengambil hikmah dan bisa lebih mensyukuri hidup anda sendiri sekarang ini.
Selama Sekolah, Tidak Pernah Alfa & Cuma Telat 2 Kali (Itupun Karena BAB Darurat)

Tidak Kepikiran Lanjut SMA
Terbesit Jadi Pembantu di Jakarta 
Ditertawakan Karena Pake Sepeda Trondol Butut (tidak ada slebor & rem)
Celana Sekolah Selalu Kotor Karena OLI Rantai Sepeda 
Untuk Makanpun Susah 
Makan Nasi Aking

Selalu Dicibir Tetangga, "Sekolah Tinggi-tinggi Buat Apa? Paling Mbabu Ke Jakarta! Pen Pen"

Piknik Sekolah, NGUTANG Sama Guru (Pak Rudiyanto)
Jalan Kaki dari Sekolah ke Rumah

Naik Sepeda Dari Jatibarang Ke Kendal
Bisnis Percetakan Dengan Pak Rudiyanto
Tidak Kepikiran Lanjut Kuliah
Program Beasiswa Kuliah D3 Gratis dari Jardiknas Pemerintah

Kuliah Tidak Punya Uang Sepeserpun

Kuliah Tidak Pernah Fotokopi

Kuliah Selalu Naik Sepeda

Pakaiannya Cuma Itu-itu Saja, Tidak Malu Apa!
Masuk Kuliah Keringetnya Grojosan

Tidak Punya Uang Seperakpun, Buka Puasa Minum Air Keran di Musholla

Bolak-balik Jatibarang, Brebes, Tegal Selalu Pakai Sepeda

Perdal Sepeda Copotan

Angkut Komputer Tabung Pentium 2 Dari Karanganyar Tegal Ke Jatibarang
Kerja di SMAN Jatibarang
Kerja di SMPN 4 Jatibarang
 
Buka Usaha Cetak Percetakan & Sablon Dengan Modal Sendiri Seadanya

Ditertawakan Tetangga & Orang-orang Sekampung
Kerja Jadi TU di SD
Berjualan Pakaian, Tas, Sandal & Sepatu
Diangkat Jadi Guru Kelas 1 SD
Kuliah PGSD Gratis di Universitas Terbuka (UT)
Dapet Tunjangan Fungsional & Beasiswa Guru SD
Lanjut Kuliah S.Kom di STMIK Himsya Semarang
Kerja di PT. ASTRA International Daihatsu Tangerang Selatan
Jadi Guru Lagi di SMK Al-Irsyad Kota Tegal
Mulai Membangun Bisnis Kembali

itulah point-point yang sementara saya tulis yang nantinya akan saya jabarkan secara lebih gamblang tentang hal tersebut supaya anda bisa lebih memaknai dan memahami makna hidup yang sesungguhnya dengan belajar dari pengalaman orang lain di sekitar anda. mungkin ini adalah tulisan terpanjang di blog kutukupret un2kmoe ini nantinya.